Jam menunjukkan 00.55 WIB. Dan mata tetap terbuka, pikiran terus terjaga. Rasa kantuk yang tadi datang sekitar pukul 21.45 WIB kemarin, Rabu, menghilang entah ke mana. Apa saya terserang insomnia, ya. Atau sekedar sebuah gejala yang disebabkan tengah penuhnya isi pikiran dalam tempurung kepala ini, dengan berbagai hal yang menyita perhatian?! Jadi ragu juga, apa benar saya tengah terserang insomnia?
Hari telah lewat. Saat ini sudah masuk pergantian hari, tepatnya 55 menit yang lalu. Tapi kantuk itu belum juga datang (kembali). Padahal besok aktifitas besar menanti kembali, yang mutlak membutuhkan pikiran dan badan yang segar bugar. Jika sampai nanti subuh belum juga bisa tidur, alamat terkantuk-kantuk di meja kerja hari ini. (Semoga bos tidak marah melihat mata merahku menghiasi muka merah merona karena malu).
Astaga, ternyata rasa ngantuk itu sangat nikmat rasanya. Karena ia pintu gerbang menuju tidur. Dan tidur rasanya sangat nikmat berkhasiat karena melaluinya tubuh dan pikiran mendapatkan kesempatan untuk kembali mereposisi diri dan mengurai kepenatan otak dan otot yang kaku karena beban aktifitas. Bersyukurlah wahai orang yang bisa tidur nyenyak dan tepat waktu!
Hingga akhir tulisan ini, rasa kantuk tak kunjung datang. Amboi, nikmat nian menyaksikan isteri dan anak yang tengah tertidur nyenyak. Tentram, damai. Keadaan yang menuai timbulnya rasa syukur.
Alhamdulillah. Karena tidur yang tertunda, jadinya bisa juga menuliskan posting baru di blog ini. :)
More about → Terserang Insomnia(?)
Hari telah lewat. Saat ini sudah masuk pergantian hari, tepatnya 55 menit yang lalu. Tapi kantuk itu belum juga datang (kembali). Padahal besok aktifitas besar menanti kembali, yang mutlak membutuhkan pikiran dan badan yang segar bugar. Jika sampai nanti subuh belum juga bisa tidur, alamat terkantuk-kantuk di meja kerja hari ini. (Semoga bos tidak marah melihat mata merahku menghiasi muka merah merona karena malu).
Astaga, ternyata rasa ngantuk itu sangat nikmat rasanya. Karena ia pintu gerbang menuju tidur. Dan tidur rasanya sangat nikmat berkhasiat karena melaluinya tubuh dan pikiran mendapatkan kesempatan untuk kembali mereposisi diri dan mengurai kepenatan otak dan otot yang kaku karena beban aktifitas. Bersyukurlah wahai orang yang bisa tidur nyenyak dan tepat waktu!
Hingga akhir tulisan ini, rasa kantuk tak kunjung datang. Amboi, nikmat nian menyaksikan isteri dan anak yang tengah tertidur nyenyak. Tentram, damai. Keadaan yang menuai timbulnya rasa syukur.
Alhamdulillah. Karena tidur yang tertunda, jadinya bisa juga menuliskan posting baru di blog ini. :)

